Senin, 06 Juli 2015

HIJAB #part 1


Keputusan untuk melakukan hijrah bagi kaum hawa tentunya bukan hal yang mudah, meskipun kita tahu bahwa menggunakan jilbab hukumnya WAJIB. Di banyak artikel atau blog, sudah banyak yang menuangkan pikiran seputar mengenakan hijab, DO or DON’T.

Saya pribadi disini hanya akan share pengalaman saya sendiri.
Buat saya, perjalanan saya untuk hijrah ini adalah momen yang sangat luar biasa. Loh, kenapa? Saya pikir saya akan berhijab setelah saya jadi nenek-nenek . Setidaknya, fenomena ini yang banyak saya temui di sekitar saya bahwa banyak orang yang sudah merasa tua ( saya selalu merasa saya masih muda…boleh kan untuk mensugesti diri sendiri) dan sudah mati gaya menata rambut (hehe…) akhirnya have to choose to wear hijab.
Awalnya saya melakukan perjalanan Umroh dengan suami saya dan kedua orang tua kami pada awal bulan April 2015. Saya akan buat pengakuan….yes, saya ga ada persiapan sama sekali untuk menjalani umroh ini. Sholat saya masih sama aja dengan sebelumnya a.k.a. bolong-bolong. Doa-doa dari buku saku yang sudah diserahkan oleh pihak tur juga ga dibaca sama sekali lho. Paling hanya persiapan kostum selama disana yang pada akhirnya banyakan pinjam daripada beli sendiri, dengan alasan ntar sayang udah beli mahal-mahal abis umroh ga dipake deh. Benar-benar tidak patut ditiru. Saya tetap beraktivitas seperti biasa aja, di kantor dan ke customer.
Saya marketing di salah satu perusahaan dan saat itu project masih hectic luar biasa. Sehingga untuk minta ijin umroh aja saya tahan sampai last minute dan sudah tentu mendapatkan ijin dari direktur saya butuh beberapa hari dengan berdarah-darah..(sedikit lebay sih).
Singkat cerita saya berhasil berangkat umroh. Selama disana saya benar-benar takjub, betapa orang setempat sangat memprioritaskan ibadah. Saat menjelang waktu sholat, semua orang bergegas menutup toko dan menghentikan segala aktivitas. Kalau yang pedagang emperan cukup menutup dagangannya aja dengan plastic/terpal. Dalam hati saya, ini kalau di Indonesia udah diembat orang kayaknya. Yeah..kadang saya terlalu berpikir negatif dengan bangsa saya sendiri. Saya sempat mengalami haid di awal dan saya hanya melihat dari kamar hotel saya. Menjelang sholat, rombongan orang yang berangkat ke masjid menyemut dan panjang. Saat mulai sholat sampai selesai, tidak terlihat orang sama sekali di jalanan Selesai sholat, pemandangan seperti rombongan ribuan semut sama seperti sebelumnya.
Untuk masalah ibadahnya, di artikel ini saya tidak akan membahas secara rinci. Yang saya rasakan disana adalah hati ini terasa nyaman. Saya sudah lupa dengan hecticnya pekerjaan di kantor.
Di sudut manapun di tanah haram, kita akan selalu berbaur dengan wanita dengan berbagai model hijab dari yang normal-normal aja sampai yang bercadar. Meskipun masih kalah modis sih dibandingin model hijab dalam negeri J.
Pulang dari umroh, kami sekeluarga memisahkan diri dari rombongan tur karena kami berencana untuk mampir Abu Dhabi dan Dubai, secara suami saya kerja disana dan sudah hampir jadwalnya on lagi sehingga tidak sempat pulang ke Indonesia dulu.
Selama 2 hari disana, saya tetap menggunakan hijab. Alasan saya adalah, masih terasa suasana umrohnya….
Pulang ke Indonesia, saya dilemma apakah akan berhijab ato tidak. Setelah menimbang-nimbang saya memutuskan untuk tidak berhijab. Jadi saya akali dengan tampil tanpa hijab tapi baju saya usahakan lebih panjang dari biasanya, at least lengan ¾. Sebelumnya saya sudah biasa pakai yang lengan kurang dari 1/2.
Di beberapa kesempatan weekend, saya bepergian dengan menggunakan hijab. Hari-hari saya lalui dengan cara tersebut. Yang saya rasakan saya makin kagum dengan orang berhijap. Rasanya itu nyess aja kalo melihat mereka. Cara pandang saya terhadap wanita yang cantik juga semakin berbeda. Wanita cantik yang berhijap akan terlihat lebih anggun, ini opini pribadi lho.
Saya juga mulai sering membaca artikel tentang pengalaman beberapa wanita menemukan hidayahnya.
Akhirnya saya lebih banyak merenung. Iya juga ya….kalau saya menunggu hidayahNya, kapan sampainya? Bukannya saya tidak percaya kepadaNya bahwa Dia tidak akan memberi hidayah pada makhlukNya, tetapi hal yang sudah jelas wajib kenapa masih saya pertanyakan lagi. Saya yang harus mencari hidayah itu. Selama itu juga saya membuat list perbandingan kenapa saya harus pakai hijap dan kenapa tidak. Karena pikiran saya masih sifatnya keduniaan, saya lebih banyak membuat list excuse untuk tidak berhijap. Dari masalah kerjaan lah dimana sektor kerja saya mainly adalah pria, terutama diposisi saya, saya satu-satunya yang cantik alias tidak ada wanita idaman eh wanita lain, sampai masalah mengatasi ketidakpedean dengan apa kata orang nanti secara saya ini dianggap pecicilan.
Tadinya saya punya niat untuk resign dulu dari pekerjaan saya baru memakai hijap. Alasan saya murni adalah saya merasa aneh saja kalau saya merubah penampilan saya di lingkungan yang sama. Rasanya males untuk menjawab pertanyaan orang atau menghadapi ledekan teman-teman dekat sekalipun tujuannya jelas guyon doank.  Berhubung niat saya (tadinya) adalah saya dapat kerjaan baru dulu baru resign dari kantor lama, tapi ya makin lama saya merasa akan butuh waktu lama untuk dapat melaksanakan niat saya itu, wong panggilan tes interview aja belum ada lagi.
Disini ada satu titik disaat saya sadar bahwa berhijab jelas kewajiban dan komitmen kita kepada Allah Yang Maha Kuasa dan sama sekali tidak tergantung pada manusia. Kenapa saya harus menunggu ada tawaran pekerjaan dari kantor lain hanya untuk menggunakan hijap?
Saya tidak merasa saya sudah menjadi orang baik, tapi saya memutuskan berjilbab untuk menjadi orang yang lebih baik.
Akhirnya pada tanggal 4 Juni 2015 saya resmi menggunakan hijap dalam kehidupan saya sehari-hari termasuk ngantor.

Postingan selanjutnya adalah tulisan baru, karena tulisan saya sebelumnya adalah sekitar 4,5 tahun yang lalu, once again 4,5 tahun....!
Itu males ato amnesia ya 😆😆
Sengaja juga ga saya edit lagi tulisan di atas, sampe ada versi hijab vs hijap.