Keputusan untuk melakukan hijrah bagi kaum hawa tentunya bukan hal yang mudah, meskipun kita tahu bahwa menggunakan jilbab hukumnya WAJIB. Di banyak artikel atau blog, sudah banyak yang menuangkan pikiran seputar mengenakan hijab, DO or DON’T.
Saya
pribadi disini hanya akan share pengalaman saya sendiri.
Buat
saya, perjalanan saya untuk hijrah ini adalah momen yang sangat luar biasa. Loh,
kenapa? Saya pikir saya akan berhijab setelah saya jadi nenek-nenek . Setidaknya, fenomena ini yang banyak saya temui di sekitar saya bahwa banyak
orang yang sudah merasa tua ( saya selalu merasa saya masih muda…boleh kan
untuk mensugesti diri sendiri) dan sudah mati gaya menata rambut (hehe…)
akhirnya have to choose to wear hijab.
Awalnya
saya melakukan perjalanan Umroh dengan suami saya dan kedua orang tua kami pada
awal bulan April 2015. Saya akan buat pengakuan….yes, saya ga ada persiapan
sama sekali untuk menjalani umroh ini. Sholat saya masih sama aja dengan
sebelumnya a.k.a. bolong-bolong. Doa-doa dari buku saku yang sudah diserahkan
oleh pihak tur juga ga dibaca sama sekali lho. Paling hanya persiapan kostum
selama disana yang pada akhirnya banyakan pinjam daripada beli sendiri, dengan
alasan ntar sayang udah beli mahal-mahal abis umroh ga dipake deh. Benar-benar
tidak patut ditiru. Saya tetap beraktivitas seperti biasa aja, di kantor dan ke
customer.
Saya
marketing di salah satu perusahaan dan saat itu project masih hectic luar
biasa. Sehingga untuk minta ijin umroh aja saya tahan sampai last minute dan
sudah tentu mendapatkan ijin dari direktur saya butuh beberapa hari dengan
berdarah-darah..(sedikit lebay sih).
Singkat
cerita saya berhasil berangkat umroh. Selama disana saya benar-benar takjub,
betapa orang setempat sangat memprioritaskan ibadah. Saat menjelang waktu
sholat, semua orang bergegas menutup toko dan menghentikan segala aktivitas.
Kalau yang pedagang emperan cukup menutup dagangannya aja dengan
plastic/terpal. Dalam hati saya, ini kalau di Indonesia udah diembat orang
kayaknya. Yeah..kadang saya terlalu berpikir negatif dengan bangsa saya
sendiri. Saya sempat mengalami haid di awal dan saya hanya melihat dari kamar
hotel saya. Menjelang sholat, rombongan orang yang berangkat ke masjid menyemut
dan panjang. Saat mulai sholat sampai selesai, tidak terlihat orang sama sekali
di jalanan Selesai sholat, pemandangan seperti rombongan ribuan semut sama
seperti sebelumnya.
Untuk
masalah ibadahnya, di artikel ini saya tidak akan membahas secara rinci. Yang
saya rasakan disana adalah hati ini terasa nyaman. Saya sudah lupa dengan
hecticnya pekerjaan di kantor.
Di sudut
manapun di tanah haram, kita akan selalu berbaur dengan wanita dengan berbagai
model hijab dari yang normal-normal aja sampai yang bercadar. Meskipun masih
kalah modis sih dibandingin model hijab dalam negeri J.
Pulang
dari umroh, kami sekeluarga memisahkan diri dari rombongan tur karena kami
berencana untuk mampir Abu Dhabi dan Dubai, secara suami saya kerja disana dan
sudah hampir jadwalnya on lagi sehingga tidak sempat pulang ke Indonesia dulu.
Selama
2 hari disana, saya tetap menggunakan hijab. Alasan saya adalah, masih terasa
suasana umrohnya….
Pulang
ke Indonesia, saya dilemma apakah akan berhijab ato tidak. Setelah
menimbang-nimbang saya memutuskan untuk tidak berhijab. Jadi saya akali dengan
tampil tanpa hijab tapi baju saya usahakan lebih panjang dari biasanya, at
least lengan ¾. Sebelumnya saya sudah biasa pakai yang lengan kurang dari 1/2.
Di
beberapa kesempatan weekend, saya bepergian dengan menggunakan hijab. Hari-hari
saya lalui dengan cara tersebut. Yang saya rasakan saya makin kagum dengan
orang berhijap. Rasanya itu nyess aja kalo melihat mereka. Cara pandang saya
terhadap wanita yang cantik juga semakin berbeda. Wanita cantik yang berhijap
akan terlihat lebih anggun, ini opini pribadi lho.
Saya
juga mulai sering membaca artikel tentang pengalaman beberapa wanita menemukan
hidayahnya.
Akhirnya
saya lebih banyak merenung. Iya juga ya….kalau saya menunggu hidayahNya, kapan
sampainya? Bukannya saya tidak percaya kepadaNya bahwa Dia tidak akan memberi
hidayah pada makhlukNya, tetapi hal yang sudah jelas wajib kenapa masih saya
pertanyakan lagi. Saya yang harus mencari hidayah itu. Selama itu juga saya
membuat list perbandingan kenapa saya harus pakai hijap dan kenapa tidak.
Karena pikiran saya masih sifatnya keduniaan, saya lebih banyak membuat list
excuse untuk tidak berhijap. Dari masalah kerjaan lah dimana sektor kerja saya
mainly adalah pria, terutama diposisi saya, saya satu-satunya yang cantik alias
tidak ada wanita idaman eh wanita lain, sampai masalah mengatasi ketidakpedean
dengan apa kata orang nanti secara saya ini dianggap pecicilan.
Tadinya
saya punya niat untuk resign dulu dari pekerjaan saya baru memakai hijap.
Alasan saya murni adalah saya merasa aneh saja kalau saya merubah penampilan
saya di lingkungan yang sama. Rasanya males untuk menjawab pertanyaan orang
atau menghadapi ledekan teman-teman dekat sekalipun tujuannya jelas guyon
doank. Berhubung niat saya (tadinya) adalah
saya dapat kerjaan baru dulu baru resign dari kantor lama, tapi ya makin lama
saya merasa akan butuh waktu lama untuk dapat melaksanakan niat saya itu, wong
panggilan tes interview aja belum ada lagi.
Disini
ada satu titik disaat saya sadar bahwa berhijab jelas kewajiban dan komitmen
kita kepada Allah Yang Maha Kuasa dan sama sekali tidak tergantung pada
manusia. Kenapa saya harus menunggu ada tawaran pekerjaan dari kantor lain
hanya untuk menggunakan hijap?
Saya
tidak merasa saya sudah menjadi orang baik, tapi saya memutuskan berjilbab
untuk menjadi orang yang lebih baik.
Akhirnya
pada tanggal 4 Juni 2015 saya resmi menggunakan hijap dalam kehidupan saya
sehari-hari termasuk ngantor.
Postingan selanjutnya adalah tulisan baru, karena tulisan saya sebelumnya adalah sekitar 4,5 tahun yang lalu, once again 4,5 tahun....!
Itu males ato amnesia ya 😆😆
Sengaja juga ga saya edit lagi tulisan di atas, sampe ada versi hijab vs hijap.
Postingan selanjutnya adalah tulisan baru, karena tulisan saya sebelumnya adalah sekitar 4,5 tahun yang lalu, once again 4,5 tahun....!
Itu males ato amnesia ya 😆😆
Sengaja juga ga saya edit lagi tulisan di atas, sampe ada versi hijab vs hijap.